Qolbu

Pengertian Islam bagi kita hendaknya tidak lagi hanya sekedar pandangan hidup atau the way of life, tetapi justru melampaui dari pengertian itu. Islam bagi kita justru merupakan HIDUP itu sendiri, atau “the essence of life”. Karena? , karena antara pandangan hidup serta sari pati hidup terdapat sebuah perbedaan yang cukup essencial. Dengan mgartikan Islam sebagi sari pati (essence) hidup bahkan hidup itu sendiri maka kita akan menjadikan Islam sebagi nafas atau jiwa dari kita. Dengan cara seperti itu maka menjadi lebih jelas bagi kita bahwa harga hidup itu ditenyukan oleh ada atau tidaknya “jiwa Ilslam” di dalam diri kita.

Dalam takaran ini maka seseorang disebut sebagai “hidup” apabila jiwanya diselimuti oleh ajaran Islam, sehingga dari pantulan sikap hidup, berfikir, dan produktifitasnya akan memancarkan kehendak dari Al-Islam secara total ! Sebaliknya seorang akan sebagai mati apabila didalam jiwanya tidak ada sama sekali ruhul Islam yang menyelimuti dirinya sehingga semua pantulan dari sosok tubuhnya tidak punya nilai apapun, bena-benar manusia yang tidak punya ruhuk Islam didadanya dapat dikategorikan sebagai “benda”.

Manusia yang tidak menjadikan Islam sebagai “inti hidup” yang menghidupakan dirinya lebih sesat dari benda yang disebut dengan “binatang”.

            Firman Allah:

“Tidaklah engkau perhatikan orang yang mengambil kemauan hawa nafsunya menjadi Tuhannya?, Engkaulah yang menjadi penjaganya?, atukah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka mendengar atau memikirkan ?, Tidak : mereka adalah sebagi binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi jalanya” (25:43-44).

Apabila hati yang berada didalam dada manusia itu sudah tidak diisi dengan Islam otomatis semua perangkat tubuh serta expresi tubuh hidupnya menjadi beku, tidak bernilai tidak ubahnya ibarat-ibarat binatang yang bergerak hanya menurti hawa nafsunya , atau dalam takaran Islam tadi – manusia yang cangkir hatinya tidak terisi Islam, dia itu mati: dan adalah misi dalam Islam untuk menjadikan manusia itu menjadi hidup sebagai manusi yang dimuliakan Allah.

            Firman Allah :

“Banyak jin dan manusia yang telah kami ciptakan untuk menjadi penghuni neraka. Mereka mempunyai akal dan tidak dipergunakan untuk berfikir. Mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat. Mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar. Mereka bagikan hewan bahkan mereka lebih buruk (dari pada hewan) untuk menerima petunjuk. Karena mereka adalah orang-orang yang lalai” (7:179).

Karena jiwanya tidak terisi Islam maka manusia itu sudah menggali lobang untuk dirinya sendiri membinatangkan kemanusiaan senhingga hina bahkan lebih hina.

Maka karena cinta kasih Allah manusia yang lali dan terbelenggu hatinya dalam semangat animals itu, diangkat dan diseur untuk”memanusiakn dirinya” sebagai penaka dan wakil Allah (Kholifah fil ardhi) sebuah sebutan yang sungguh amat mulia dan terhormat diantara segala makhluk apapun.

            Firman Allah :

wahai orang-orang yang beriman : sambutlah panggilan Allah dan RosulNya. Apabila ia memanggil kamu kepada segala apa-apa yang akan menghidupkan kamu”(8:24).

Dengan pengertian ini maka manusia itu belum termasuk “hidup” apabila jiwanya belum terisi oleh Islam dan untuk mengisi cangkir hatinya dengan Islam maka tidak ada jalan lain lagi bagi manusia itu kecuali mengisi jiwanya dengan ajaran Allah srta tauladan dar RosulNya.

Maka Islam merupakan sebuah energi yang menggerakan seluruh potensi tubuhnya untuk berbuat , maka Islam harus dijadikan sebagai suara batin yang mendorong seseorang untuk mengambil keputusan dalam semua aspek hidup dan kehidupanya.

Islam tidak hanya  sekedar sesuatu yang dioandang dan berada diluar tetapi islm harus dijadikan sesuatu yang mengisi yang berada di dalam dada, itulah yang dimaksudkan Islam as The essence of life it self : Islam bukan hanya sekedar ide tetapi sekaligus merupakan ideology yang diaktualisasikan dalam bentuk perbuatan manusia.

Karena Islam merupakan sari pati hidup maka setiap pribadi yang mengaku diri sebagai “muslim” setiap keputusannya setiap perbuatan kreasi dan penamilanya haruslah merefleksikan “semangat Islam” dan kalau kita berbicara dengan tentang arti semangat maka itu berarti menyangkut masalah jiwa.

Jiwa seorang muslim itu tidak terpendam bukan sebuah misteri tetapi jiwa atau semangat muslim itu adalah sesuatu yang memantul mewarnai dan disadari secara utuh. Anta jiwa yang membuat keputusan dan perbuatan yang melaksanakan keputusan adalah merupakan satu kesatuan , intergreated.

Dengan berfikir seperti itu ,maka harga seorang muslim itu dapat kita ukur dari “perbuatanya” sebagi manifestasi dari “jiwa”. Untuk itu menjadi seorang muslim seorang yang tidak perlu harus mengernyitkan kulit dahinya sebab dengan pengakuan dir sebagai seorang muslim seorang akan dengan cepat melihatnya sebagai satu kesatuan .

Antara jiwa dengan perbuatan antara penyataan dengan kenyataan haruslah memuat dan sesuai dengan islam sebagai jiwanya. Islam sebagai ajaran yang revolusioner anatara kata dan perbuatan tidak ada jurang pemisah walapun dengan dalih apapun. Berbeda saja sedikit walaupun hanya selembar rambut maka jiwa islam itu telah cacad persisi seperti seseorang yang dihinggapi sebuah penyakit.

Itulah sebabnya bagi setiap muslim diberi persyaratan mutlak untuk mengambil islam itu scara total (khaaffah) menjadikan ajaran Allah dan RosulNya sebagai jiwa yng akan menghidupkan dan memuliakan dirinya dihadapan Allah.

            Firman :

Hai orang-orang yang beriman ! masuklah kamu sekalian kedalam islam secara total dan janganlah engkau ikuti ajaran syetan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh kamu yang nyata.” (2:28)

Pengertian “udhulum fissilmi kaaffah”, dapat kita bayangkan ibarat seorang yang “terjun kelaut”. Dari ujung rambut sampai ujung rambut kuku jari  kakinya., basah kuyup, bahkan tetesan air yang jatuh dari tunuhnya akan terasa asin. Orang yang hanya sekedar membasuh muka dan tidak berteriak : “Hai kawan ,lihatlah lihatlah muka saya dan terasa asin karena saya baru saja terjun kelaut”.

Orang seperti ini dapat kita kategorikan sebagai “pendusta” sebab kita sudah mendustai dirinya sendiri, menipu dirinya sendiri. Padahal dia sadar bahwa yang dia lakukan itu bukanlah terjun kelaut tetapi “cuci mka”. Begitulah perumpamaan yang tidak mengambil islam secara total , secara khaaffah.

Contoh lain tentang pengertian khaaffah ini, marilah kita melihat sebiah benda yang disebut dengan mobil. Apakah ada seorang diperintahkan untuk menjemput seseorang dengan mengendarai mobil maka yang datang adalah dirinya yang sedang menjadi sopir dari mobil itu.

Tetapi apabila seseorang itu dengan terengah-engah dan bersemangat berkata “ silahkan anda naik kedalam mobil”, apa artinya? . ban mobil itu tetap saja bukan bukan mobil walau anda berteriak setinggi langit, dan memaksakan siapapun untuk mengikuti perbuatan anda. Bagi mereka yang yang alas an karena takut gengsi tau demi jabatan serta masa depan menganggukan kepala bahwa ban mobil itu adalh bnar         mobil, maka sudah mengingkari kebenaran. Kufur!

Begitu juga dengan ajaran islam ini seseorang tidak dapat mengambil bagian yang satu dan mencampakan bagianya yang lain. Islam adalah ajaran yang konsekuen revolusioner untuk melakanakan dan untuk menyakini ajaran dari Allah dan RosulNya. Sedikit saja menyimpang dari tataran ajaran islam maka dia akan terpesrosok dalam nilai-nilai yang tidak islami dengan kata lain bagaimana yang disebut oleh Al-Qur’an itu sendiri, dia adlah yang ingkar secara terang-terangan.

            Firman Allah :

sesungguhnya orang-orang yang tidak berfirman kepada Allah dan RosulNya dan hendak memisahimishkan antara Allah dan RosulNya dan mereka berkata: “kami percaya kepada sebagian dan tidak percaya sebagian yang lain dan mereka hendak mengambil jalan tengah. Mereka itulah orang-orang yang kafir. Dan kami sediakan azdah yang menghinakan.”(4:150-151).

Karena jiwa merupakan suatu inti kehidupan maka jiwa merupakan factor yang sangat fundamental untuk mendorong dan memberi keputusan sebuah perbuatan.

Berulang klai Al-Quran menyebutkan tentang “Qolbu” untuk memberikan aksentuasi betap besar peranan jiwa yang berada pada dada manusia tersebut.

Fungsi mata serta telinga guna memberikan informasi secara “matriil” kepada aqal yang mempunyai fungsi untuk memproses raw material yang dikirim audio visual tadi. Setelah aqal melaksanakan fungsinya sebagai alay “processing” maka tampil qolbu yang memberikan rangsangan yang telah diproses aqal tadi. Principium identitas bagi manusia.

Begitu pentingnya kedudukan qolbu bagi manusia maka Allah sendiri menafikan suatu perbuatan lahiriah yang tidak sengaja tetapi tidak mungkin qolbu melepaskan tanggung jawab dari seluruh perbuatan sebagai hasil dari jugement-nya tersebut.

 

Firman Allah :

Allah tidak menghukum engkau karena bermain-main dengan sunpah. Tetapi Allah akan menghukum terhadap apa yang dikerjakan oleh qolbumu, Allah itu pengampun dan penyayang.

            Firman Allah: 

…..Siapa yang menyembunyikan kesaksiannya, sesungguhnya hatinya telah berdosa, Allah mengetahui apa yang kamu kejakan.”(2:283)

Penyataan Allah ini di ulangi kembali pada ayat yang berikutnya:

“….Sekiranya kamu terangkan apa yang ada dihatimu. Atau menyembunyikan niscaya Allah akan memperhitungkannya. Allah mengampuni apa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa orang yang dikehendaki-Nya. Allah itu kuasa atas segala sesuatu.”(2:284)

Demikianlah bahwasanya “qolbu” adalah sebuah”mudhgoh” yang harus hidup dan dihidupkan. Karena qolbu ini pemberi kata putus, maka bagi setiap muslim tidak ada alasan baginya, kecuali memelihara qolbunya dengan penuh rasa tanggung jawab, yaitu menghidupkan qolbunya dengan berdzikir.

Zikir artinya sebuah tingkat kesadaran yang tinggi untuk mengingat atau mengkhayati akan makna ilahiyah dalam segala aspeknya yang kemudian menggetarkan seluruh pori-pori tubuhnya untuk menggelorakan amanah Allah melalui perbuatan yang disebut “amal Sholeh”.

Hendaknya setiap muslim mampu menciptakan qolbunya menjadi suara Allah. Sehnggga bisikan hatinya yang akan memtuskan persoalan diselaraskan dengan kehendak Allah tersebut.

Begitulah adanya, qolbu menjadi rebutan antara suara Allah dan suara syetan, yang mendengus untuk memalingkan qolbu salim itu kepada jalan yang sesat. Apabila qolbu telah dicelup dengan sibghoh Ilahiyah, maka semua perbuatanya akan memancarkan sibghoh tersebut. Apabila qolbu sebagai inti kehidupan sudah seluruh kaafah diselimuti oleh Al-Islam maka sorang muslim pastilah dengan gagah berani akan mampu menyatakan kepada alam semesta ini : Isyadu biana muslimuun.

Celaan manusia, penilaian akal manusia bahkan terror apapun yang ditujukan kepada dirinya dalam rangka menghancurkan keyakinan Al-Islam maka bagi seseorang yang telah kokoh kuat berurat berakar kalimah tauhid di qolbunya maka celaan itu sedikitpun tidak akan membawa keraguan bagi dirinya. Kenapa? Karena sudah diyakini benar bahwa harga itu terletak pada qolbu.

Sedikit saja melencrng dan terperangkapa pada suara batin yang ragu-ragu, maka pada hakekatnya dia itu “mati” maka kita sebagai muslim diwajibkan untuk nerserah diri kepada Allah secara kaaffah, mengambil segala ajaran Allah dan RosulNyasecara total, sebab itu perhatikan qolbu kita masing-masing.

Sebab dengan kemantapan dhomir qolbu akan keyakinan untuk menjadikan dua perangkat Al-Islam yang sempurna yaitu ajaran kitabilloh dan Sunnah Rosululloh maka seluruh perbuatan jasmani kita sudah barang tentu akan memancakan pula seluruh tindakan yang kaaffah tersebut.

Sekarang tampaklah kepada kita bahwa nilai sebuah perbuatan akhirnya diukur oleh qolbunya senidri. Mungkin sekali dimata orang perbuatannya mempunyai nilai tinggi tetapi dihadapan Allah ?, belum tentu.

Itu sebabnya Rosululloh manjadikan “niat” menjadikan tolak ukur sebuah perbuatan. Bahkan sebuah keputusan yang meragukan sekalipun. Rosululloh menyarankan kepada kita untuk bertanya kepada qolbu(saldomiro).

Dengan memiliki qolbu yang committed terhadap Al-Islam maka seluruh manusia yang mengaku muslim tidak punya dasar sedikitpun untuk menghindarkan dirinya dari perintah serta amanah Allah dan Rosul-Nya.

            Firman Allah:

mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman tetapi mereka menipu dirinya sendiri dan mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya dan untuk mereka siksaan yang pedih dikarenakan mereka itu telah berdusta”(2:9-10)

Kwalitas seorang muslim sangat berbeda ibarat merah dengan putih denga seorang munafik yang prndusta itu. Seorang muslim memiliki qolbu yang “mutma ‘inah”, kuat dan gagah memperjuangkan ajaran Allah, sementara seorang munafik jiwanya gelisah. Seorang muslim dengan mengkhayati perintah, hak, dan kewajiban dirinya dihadapan Allah menjadi damai sebaliknya seorang munafik apabila mengingat ajaran Allah hatinya menjadi ragu-ragu. Seorang yang mengaku islam sudah tentu dia akan tidak terlepas dariproses zikir . walau begitu jangan diaslah tafsirkan mengenaiyang disebut “proses berdzikir” itu.

Dzikir bukanhanya sekedar “mengingat” Allah. Tetapi yangs aya maksudkan dengan zikir adalah suatu proses yang kontinyu dari detik ke detik memahami menghayati seluruh kebesaran sang pencipta yang kemudian penghayatan ini merangsang seluruh perangkat,potesi organ tubuhnya untuk bertindak dan berbuat, produktip dan kreatip melaksanakan ajaran islam secara menyeluruh.

Dengan proses dzikir ini maka seseorang harus merasa dimonitori oleh kamera Ilahiyah sehingga seserang tidak mungkin bertindak menyimpang dari kehenddak Al-Islam, sebab dia sadar bahwa seluruh potensi perbuatanya direkam oleh kamera Ilahiyahyang tidak mungkin meleset sedikitpun. Apabila kesadaran ini dimiliki oleh seorang muslim maka berhaklah dia untuk memproleh gelar “Ulil AL-Bab”, sebuah gelar yang sulit untuk diterjemahkan kedalam bahas apapun juga.

            Firman Allah :

sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi dan pergantian siang dan malam akan menjadi keterangan bagi Ulul Al-Ban. Yaitu orang yang berdzikir kepada Allah ketika berdiri dan duduk, ketika berbaring dan mereka memikirkan tentang kejadian langit dan bumi. Wahai Tuhan kami tidaklah engkau ciptakan segala sesuatu dengan sia-sia. Maha suci Engkau, peliharah kami dari siksa neraka”(3:190-191)

Antara dzikir – qolbu – amal sholih, merupakasan suatu rangakaian padu yang bersibiose, kesatuan unit yang tidak bisa dibagi dalam bentuk fragmentasi atau elemen.

Apabila kesatuan unit itu sudah dipenuhi maka sampailah kwlitas qolbu seseorang muslim pada puncak kemusliman sebagai seorang yang memiliki gelar “nafsu Mut’ma ‘inah” yang merasakan kedamaian dalam melaksanakan seluruh ajaran Al-Islam tersebut.

            Firman Allah :

orang-oang yang beriman dan hati mereka tentram karena berdzikir kepada Allah. Kethuilah bahwa dengan berdzikir kepada Allah itu nanti menjadi damai.”(13:28)

Hai jiwa-jiwa yang tentram kembalilah kepaa Tuhanmu, merasa senang (ridho) dan disenangi (diridhoi). Sebab itu masuklah dalam hamba-hambaKu dan masuklah dalam sorgaKu.”(89:27-30)

Gelar “nafsul mutma ‘inah” adalah gelar yang sangat mulia yang didalam Ql-Qur’an hanya disebut satu kali, tidak pernah di ulang ! sungguh, inilah gelar yang harus yang menjadi cita-cita bagi setiap muslim yang hidupnya senantiasa merindukan karunia Allah. Uraian Al-Qur’an yang memberikan aksentuasi secara khusus terhadap kedudukan qolbu “memahami dirinya secara pasti”

Apabila ada seseorang berkata “engkau telah menipu dirimu”. Maka hendaknya kita segera mengerti bahwa yang menipu itu adalah qolbu.

Semua perangkat yang ada pada diri manusia apakah itu tubuhnya perbuatannya dan segala aspek yang bisa ditangkapa oleh orang lain, belumlah mencerminkan “pandangan yang utuh” manusia yang kita pandang itu.

Bahakan ucapan yang bisa-bisa dianggap terlalu radikal, apabila saya katakana : “bahwa manusia tidak pernah akan mampu memandang manusia lainya secara utuh.” Keutuhan pandangan diri akan manusia hanya mungkin difahami oleh dirinya sendiridan tentu saja Allah.

Itulah sebabnya pembicaraan mengenai qolbu  maka dia akan merasakan seuah dinamika dari dalam sebuah ketukan dari dalam. Secara lahiriyah seorang pencuri mungkin berhasil mengambil suatu barang tanpa seorang yang mengetahuinya tetapi karena adanya potensi qolbu didalamnya maka sang pencuri itu tidak akan bisa melarikan diri dari “bisikan dalam” yang terus bersuara dan membawa dirinya kepada perasaan berdosa. Ini berarti pula bahwa penilaian terhadap sebuah “keyakinan” harus dilihat dan ditakar oleh qolbunya sendiri.

Dengan  tingkat kesadaran diri yang tinggi seseorang akan terhindar dari bahaya “hypocrite”, bahaya kemunafikan. Kondisi seseorang yang mampi memahami kondisi diri da terjun kedalam qolbunya iitulah yang kita kenal dengan “ikhsan”.

Rosululloh memberikan definisi tentang ikhsan ini sebagaiman uraianya : “Beribadahlah engkau seolah-olah engkau melihat Tuhanmu, apabila engkau tidak melihatNya, ketahuilah sesungguhnya Tuhan melihatmu”.

Qolbu yang membenarkan (tasqid) akan kebenaran ajaran Allah, Qolbu yang memberikan keputusan untuk menerehkan dirinya secara total kepada Allah. Qolbu pula yang kemudian memberikan kesadaran diri untuk menyakini dan berserah diri kepada Allah.

Maka rangkaian Iman-Islam-Ikhsan, merupakan satu mata rantai yang kokoh harus terhujam didalam qobu setiap pribadi muslim yang kemudian mampu menyuarakan ketiga perangkat tersebut dalam bentuk “perbuatan”.

Keselamatan diri seorang muslim dalam menjalankan misi simuka bumi ini maka dapat dijamin apabila kita tetap waspada untuk memelihara qolbuny. Harus waspada karena qolbu itu adalah qalaba artinya “berboalak balik”, labil.

Didalam qolbu itu ada semacam sekat halus yang memisahkan sebuah serambi iman dan serambi yang lainya adalah hawa nafsu yang senantiasa menggelorakan nafsu animals semata-mata.

Adalah kewajiban seorang muslim untuk menjaga sekat halus itu agar tidak bocor sehingga hawa nafsu merembes keserambi iman dan kemudian mendominirnya !Hawa nafsu Animals ini apabila sudah merembes dan tidak terkendali maka akan menjadi sebuah kanker ganas yang merobek qolbu salim membuatkan qolbu untuk memandang cahhaya kebenaran.

Apabila hawa nafsu sudah bersinggaana secara dominan pada seluruh qolbu maka misi manusia dimuka bumi sebagai Kholifah Fil Ardhi teah jatuh menjadi hamba bumi yang lebih sesat dari binatang. Itulah sebabnya kebutaan qobu yang sungguh sangat durjana.

            Firman Allah :

bukanlah mereka berjalan dimuka bumi supaya mereka mempunyai hati (quluubun) yang dapat berfikir atau telinga yang dapat mendengar ? Karen sebenarnya buka mata yang buta tetapi yang buta adalah hati(Al-quluub) yang ada di dalam dada.”(22:46)

Qolbu yang hidup itu bagaikan cangkir yang berisi gemercikan air islami yang kemudian memercikan gerakan amal sholeh yang membuahkan kepatuhan kepada Allah dan memberikan rahmad kepada alam semesta. Kesdaran dzikir terhadap misi dan eksistensinya dihadapan ilahi itulah yang menyebabkan hatinya senantiasa terbuka untuk meneriam Al-Islam tanpa reserve sedikitpun. Al-Islam bagi diri seorang muslim merupakan cahaya diatas segala cahaya.

Adalah kesedihan yang maha nestapa bagi dirinya manakala hatinya tertutup dari cahaya ini sebab kehelapan yang maha dasyat pasti akan mematikan harga dirinya dihadapan Allah.

            Firman Allah:

apakah orang-orang yang dibukakakn Allah hatinya menerima Islam karena itu dia mendapat cahaya dari Allah. Nasib malang bagi orang yang kasar/keras hatinya untuk berdzikir kepada Allah. Mereka dalam sesat yang terang”.(39:22)

Tidak ada yang lebih mengerikan kecuali berjalan didalam kesesatan. Ibarat sebuah biduk yang dikayuh dalam kegelapan kelam begitulah qolbu yang tidak mendapat Nur kebenaran, sebab itu qolbu muslim itu hanya tunduk dan berserah diri secara penuh kepada Allah. Didalam qolbunya tidak ada sedikitpn perasaan syakwasangka apalagi karaguan terhadap perintah Allah. Cangkir qolbunya semata-mata barisi Nur dari Allah, sehingga jadilah qolbunya sebagai pandu utama yang akan memberikan dorongan kepada pendengaran, penglihatan dan seluruh aktivitas tubuhnya dalam nur tersebut.

Cita-cita orang muslim hanya berharap agar sesuatu saat pada hidup diakhirat nanti, dirinya akan dipanggil Allah. Bukankah Allha yang diyakininya itu hnaya memanggil yang qolbunya taslim (berserah diri total) kepada-Nya.

            Ingat Firman Allah :

ingatlah ketika ia datang kepada Tuhannya denga qolbu yang suci”.(37:84)

dan supaya orang-orang yang diberi ilmu menyakini Al-Qur’an yang sebenar-benarnya haq, lalu mereka beriman dan Qolbu mereka tunduk kepad-Nya…(22:54)

Apakah qolbunya sudah lenkap disinari oleh cahaya Allah. Maka apakah yang akn membuat kesedihan dan keraguan bagi dirinya. Bkankah segala langkah dalam kehidupannya tidak akan mungkin menggoyahkan pendiriannya sedikitpun sebab resiko yang paling besar bagi seorang muslim adalah perasaan takut apabila dihatinya bersemi sebuah perkataan “ragu” akan janji-janji Allah.

Keraguan akan Allah dan segala perintah-Nya itu benar-benar penyakit yang lebih ganas dari penyakitapapun. Penyakit ragu, dusta, dan tidak konsekuen akan ajaran Allah hanya;lah pantas disandang oleh hati seorang munafik.

Bahkan seorang muslim kerinduan yang mendalam untuk senantiasa mendapatkan karunia serta bertemu muka dengan Allah pada hari akhri nanti merupakan ultimate goal yang harus ditancapkan secara kokoh didalam qolbunya. Bergetarlah hatinya ketiaka dia mendengar ayat-ayat yang dibacakan, gemuruhlah dadanya sebagai tanda kerinduan tanda kecintaan kepada illahi Rabbi.

            Firman Allah :

sesungguhnya orang yang beriman itu apabila disebut nama Allah bergetarlah hatinya…”(8:2)

Idikasi Allah atas qolbu seorang muslim itu diulangi kembali dalam surat selanjutnya.:

orang-orang yang apabila disebut nama Allah bergetalah qolbunya orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka orang yang mendirikan sholat dan orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah kami berikan kepada mereka.”(22:35)

Bergetarnya qolbu seorang muslim, janganlah ditanggapi ibarat melihat getaran seorang yang menggigil karena kedinginan. Getaran qolbu ini merupakan suatu resonansi dari dalam sebuah kesadaran moral sebuah conscience, sebuah gewetan yang mengetuk-ngetuk tanggung jawab misi hidup dan kehidupanya dihadapan Allah.

Aksentuasi Al-Qur’an yang mengekpose masalah hati (yang didalam ayat sering disebut dengan qolbu-suduuri-nafs atau fu’ad), menunjukan kepada kita bahwa seorang muslim merupakan seorang subk=jek hokum Allah dialah yang harus melaksanakan seluruh amalan (perintah/ajaran) dari Allah.

            Firman Allah :

“dan orang yang memberi apa yang telah mereka barikan, dengan hati yng taktu karena mereka tahu bahwa akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itu kemudian bersegera untuk berbuat kebaikan, dan mereka yang memperolehnay”.(23:60-61)

Sebagai subjek, sebagai kholifah fil Ardhi, maka seorang muslim akan menafikan seluruh ajaran, ideology, hokum, dan segala bentuk penghambaan apapunm kecuali dari dan untuk Allah. Kesadaran religious seperti inilah yang hendak diangkat oleh Allah kepermukaan, sehingga tepatlah posisi manusia tersebut sebagia kholifah fil ardhi sebuah gelar yang sangat ,mulai  yang dirberikan Allah kepada manusia.

Tengoklah sesuatu peristiwa dizaman Rosululloh ketika seorang wanita yang berzinah datang kepada Rosululloh untuk minta dihukum rajam. Mengapa wanita itu harus menghadap dan mengaku? Padahal hokum positip memberikan pesyartan bahawa seorang dituduh berzinah apabila ada empat saksi mata. Dalam kasus ini wanita itu melakuakn zinah tidak diketahui oleh sipapun, tidak ada saksi tetapi karena kesadaran qolbu, karena getaran suran iman yang berada di dadanya itulah yang meronta-ronta takut akan hukuman dasyat di ahirat nanti. Maka dia mengaku dihadapan Rosululloh. Inilah yang kita maksud dengan kesadaran hokum tersebut. Seseorang dapat saja menipu orang lain dan berhasil. Seorang pencuri bisa lolos dari “tertangkap basah” oleh seprangkat alat kepolisian. Tetapi seseorang itu tidak mungkin menghindari dari kejaran sura qolbunya, perasaan dasarnya yang melekat pada fitrahnya.

Bukanlah kita pernah mengenal atau mengetahui sebuah peristiwa dimana seorang pembunuh yang berhasil lolos, dan bersembunyi berthun-tahun, tetapi akhirnya dia dia menyerahkan diri kepfihak kepolisian. Mengapa? Karena seseorang akan berat mengkhianati dirinya sendiri dan mengkhianati hati nuraninya. Sebab itulah dalam takaran Islam mereka yang sudah tega bahkan dengan gembira melakukan kedustaan dan kedurjanahaan pada dasarnya dia adalah “binatang, bahkan lebih dari itu”.

Allah sendiri tidak akan segan untuk memisahkan postur seseorang manusia yang telah diperhamba oleh nafsu badaniyahnya nafsu dunia yang diperumpamakan seekor anjing yang mengulur-ulurkan lidahnyasesuai dengan firman Allah:

Dan kalau kami kehemdaki niscaya dia kami tinggikan tetapi dia ingin tetap dibumi dan menuruti kehendak dibumi dan menurut kehendak nafsunya. Perumpamaanya seperti kalau engkau halau dijulurkan lidahnya, kalau engkau biarkan dia tetap saja menjulurkan lidahnya. Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sebab itu ceritakanlah hal ini agar mereka berfikir.”(7:176)

Dalam bentik susunan huruf  antara anjing dengan qolbu hanya sedikit seklai perbedaannya, anatar kaf (….) pada anjing (kalbun) dengan Qof (….) untuk Qolbu sama-sama pada awal huruf sama jumlah hurufnya tetapi kalai saja salah menulis atau menyebutkanya maka bisa berubah artinya.

            Anjing……………..

            Hati………………..

Bahkan dengan huruf Qof itu selalu harus memakai tanda 2 buah titik diatasnya, seakan-akan lindungilah qolbumu dengan Qur’an dan Sunnah Rosululloh. Kalau Qof hilang titik 2nya diatas , maka huruf yang tersusun itu hilang artinya, alangkah indahnya Al-Qur’an itu, apakah masih aja manusia yang sangsi akan kebenaran ini?

Maka bergegaslah untuk menghiasi qolbu dan mengisinya dengan Nur-Islam sebab alangkah pedihnya qolbu manusia pada saat kematian tiba padahal diatas qolbunya tidak bersinggasana Allah.

peringatkanlah kepada mereka kepada ari yang sudah dekat waktunya ketika qolbunya sudah menyesak sampai kerongkongan pedih menahan sakit. Orang-orang yang berslah tidak mempunyai teman yang setia yang penolong yang diharapkanya.”(40:18)

Hari yang sudah dekat itu (yaumul ajifatin), adalah hari ketika Al-maut menjalankan fungsinya kepada kita. Dia merenggut nyawa tanpa permisi kita. Itulah dia hari yang pasti datangnya, sakaratul maut ketika semua hati manusia berbolak-balik ketika semua misi nya simuka bumi akan segera diminta pertanggungjawabnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s